Minggu, 02 Mei 2021

Tulisan seorang anak syuhada KRI Nanggala 402

 



Tulisan seorang anak syuhada  KRI Nanggala 402.

Susah Menahan Tangis
---------------

Saya paling sulit menahan tangis, termasuk pagi ini - saat membaca kiriman dari Gus Yaqut di WA grup.

Tentang kesaksian anak  salah satu korban gugur di KRI Nanggala 402.

Untuk Nery, kamu bukan hanya pencerita yang baik. Tetapi anak yang hebat dan juga pribadi yang kuat.

**********************

SELAMAT BERTUGAS PRAJURIT...

By Nery..

Berita tentang hilangnya kapal selam sejak kemaren, membuat berkecamuk semua rasa kami.

Ya, salah satu awak kapal itu adalah ayah kami, yang pamit bertugas hanya seminggu, namun di hari ketiga di khabarkan loss contac.

"Ya Allah, tolong ya Allah, butuh keajaibanmu" gumam adik perempuanku yang tak lepas dari TV dan memantau lewat sosial media.

"Eh, jangan bilang tenggelam dulu dong, jangan menyerah dong, carii, cari terus" histerisnya adik lelakiku penuh emosi.

Aku sebagai anak perempuan tertua menahan semuanya, tidak ikut emosi walau air mata tak bisa terhenti.

Tanggung jawabku memastikan keadaan rumah terkendali, terutama ibuku, sesuai pesan ayah yang selalu di ulang-ulang,
"Saat ayah bertugas, kondisi rumah menjadi tanggung jawabmu, bantu bunda untuk menjalankan hari selama ayah tertugas, kamu anak pertama, tugas ini memang untuk kamu, walaupun kamu perempuan, maka jadilah perempuan yang kuat, adikmu boleh menyerah, tapi kamu tidak boleh menyerah jika masih bisa berdiri"

Hari-hari biasa kudengar petuah itu layaknya kaset yang di ulang-ulang terus sebulan 2 sampai 3 kali setiap mau bertugas beberapa hari.
Dan akan lebih lama petuah itu jika ayah akan bertugas sebulan lebih.

Dan kemaren petuah itu tidak lebih lama, namun sebelum masuk mobil ayah kembali dan menghampiriku, memegang pundakku, dan berkata
"Ingat tanggung jawabmu, menjaga semua menjadi baik-baik saja, walau dalam keadaan tidak baik"

Hanya kujawab dengn anggukan, karena kupikir "apaan sih ayah, tugas cuma seminggu aja"

Namun ternyata tidak seperti biasanya, ayah berlayar tanpa khabar.

Sejak di nyatakan hilang, ibuku menangis tapi tidak histeris, berdiam diri di kamar, di atas sajadah, terus merapalkan doa.

Kuhampiri saat berbuka puasa, kupastikan ibu baik-baik saja.

Ingin rasanya berteriak, namun sesuai pesan ayah, aku tidak boleh, aku harus jalankan tugas ayah.

Dan saat pimpinan tertinggi menyatakan "on enternal patrol" 
Adikku menjerit, histeris, aku bingung, aku kwatir, harus bagaimana, ibuku, namun saat mau kubuka pintu kamar, ibu keluar dan meminta kami duduk tenang.

"Dulu saat ayah mau meminang bunda, ayah ragu, karena dia tahu tugasnya yang akan membuat beliau akan sering meninggalkan bunda, namun kami saling cinta, suatu saat ayah bilang 'jadi tentara adalah takdirku, dan mencintaimu juga takdirku, tapi jika kamu tak sanggup akan takdirku, baiklah akan kuikhlaskan, maaf saya lebih memilih jadi tentara daripada menjadi pasangan yang tidak siap menjadi istri tentara'
Lalu bunda jawab 'menjadi tentara adalah takdirmu mas, dan menjadi istri tentara adalah takdirku, aku siap'
Benar saja, ayah pernah bertugas hitungan bulan sampai setahun lebih, bunda mengambil alih tugas ayah, benerin genteng, menambal rumah, bahkan hanya adik galang yang lahir di tunggui ayah, tidak untuk anak pertama dan kedua bunda, bunda urus anak sendiri, bunda lakukan semua hal saat ayah bertugas, namun bunda jadi ratu saat ayah di rumah, itulah ayah kalian, yang tegas dan garang di medan laga, namun sangat lembut di rumah, coba ingat, pernahkah sekalipun ayah membentak kalian? Kalian masih ingat kan, saat ayah marah sekali, hanya sorot matanya yang tajam, gerahamnya mengeras, lalu pergi meninggalkan kalian, ayah masuk kamar, dan diam. Saat amarah sudah reda ayah keluar mencoba senyum dan berbicara. Itulah ayah"

Air mata ini telah menganak sungai saat bunda berbicara dari hati dan dengan hati-hati.
Kami diam, walau terisak.

Kemudian bunda melanjutkan petuahnya.
"Sekarang ayah sedang bertugas, menjaga samudra negeri ini, walau tak akan pulang, jangan bersedih, ini takdir, ikhlaskan, layaknya kita melepas ayah pergi bertugas seperti biasanya, namun kali ini tugasnya lebih berat, butuh dukungan dan doa kita untuk tugas ayah, pastikan kita semua mengingat dan menjalankan tugas-tugas yang di berikan ayah"

Teringat semua tugas yang ayah berikan kepada kami, baik yang di dengar semua atau di berikan satu per satu.

"Sekarang mari kita hormat, lalu ambil wudhu dan kita laksanakan sholat ghoib"
Perintah bunda, wanita kuat didikan seorang prajurit.

Kami semua menghadap televisi yang sedang menayangkan gambar-gambar kapal yang di naiki ayah.

Bunda memimpin penghormatan kami.
"Hormat graak"
"Selamat bertugas prajurit, jangan kwatirkan kami, kami baik-baik saja, jika masih ada dermaga maka bersandarlah, dan jika dermagamu adalah surga maka tunggu kami di dermaga itu, selamat bertugas"
Suara parau bunda membuat isak tangis dan gemetar dalam penghormatan kami.

Lalu kami mengambil wudhu untuk lalukan sholat ghoib.
Saya kira kami akan sholat ghoib sendiri-sendiri. Namun tidak.

Galang, adik kami yang paling kecil, yang selama ini kami kenal bandel dan olokan, karena bontot dan lelaki sendiri, telah berdiri menempatkan dia sebagai imam

"Luruskan shaf, saya mendapat tugas dari ayah, untuk menjadi imam, menjadi muhrim dan menjaga kehormatan kakak dan bunda, karena saya lelaki sendiri, saya sebenarnya pemimpin setelah ayah, namun saya kira saya belum siap, tapi kini saya siap tidak siap harus jalankan tugas ayah, bunda, kakak, tolong bimbing saya untuk jalankan tugas ini."
Kata-kata pemimpin baru di rumah ini membuat derai air mata bercampur senyum yang keluar bersamaan.
Dan kami bertiga, mengangguk pasti.

Sholat ghoib berjalan dengan penuh air mata, namun hati kami ikhlas.

Selamat bertugas prajurit.
Kami akan melaksanakan tugas dari Anda.
Sampai bertemu di dermaga kelak.

0 comments

Posting Komentar